Tentang Hujan 2008 (part 3-habis)

Melalui awan mendung yang berkumpul di langit Jogja kali ini…

Seperti kumpulan kelam nan muram. Seolah menahan beban yang tertahan untuk dikeluarkan. Kemudian langit semakin gelap, kian menghitam dan pekat. Menunggu seper sekian detik lagi untuk hancur.

Kini lebur. Pecah juga bebannya. Perlahan tapi pasti, rintiknya menjadi deras. Hingga tak terlihat lagi putusan-putusan hujan itu. Seperti milyaran juluran tali dari langit yang sengaja di buang ke bumi. Agresif dan tanpa spasi.

Derasnya pun seperti menusuk. Apalagi gaduhnya, terlalu mengusik. Hampir seperti pukulan genderang berurutan. Meski masih saja ada burung yang mau berkicau dan kudengar.

Tapi hampa. Tetap saja hampa. Riuh hujannya memekakkan. Apalagi wujudnya, kian memilukan. Demikianlah kiranya isi hati saat ini. Karna nyaman itu tak lagi ada seperti dulu saat menikmati hujan. Yang tertinggal hanyalah sesak. Di mana tarikan nafas berat selalu muncul di setiap 2 menitnya. Seperti manusia sakit yang tetap saja hobi menyiksa diri. Selalu menghadirkan kembali berkas masa lalu yang seharusnya di buang jauh. Menutupnya rapat-rapat dalam sebuah kotak besi, menguncinya dengan gembok besar, lalu melempar kunci itu ke laut. Hingga tak kan pernah lagi kotaknya bisa terbuka. Harusnya semua itu sudah dilakukan.

Wah wah, kisah ini benar-benar sudah berakhir ternyata. Sudahlah, pasti ini yang terbaik, bukankah aku malah terbebas dari kesalahan. Kesalahan yang ada sejak awal kusadari kehadirannya. Memulai kisah rumit ini, mempertahankannya selama bertahun, namun malah membuatnya semakin rumit. Memupus mimpi yang dibuat sendiri. Bahkan sempat menghancurkan mimpi orang yang dicinta. Tapi kini telah usai. Dia telah memilih. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Hingga membuat diri tersadar akan sesuatu:

“Kadang Allah tidak memberi apa yang manusia harapkan, tapi Allah memberi apa yang manusia perlukan”

Percayalah… hal yang diperlukan jauh lebih penting bukan??? Dan karena sebenarnya, kini aku mulai merasakannya…

Untukmu… trima kasih, trima kasih atas cinta dan waktu yang pernah ada untukku.

*Namun kisah ini cukuplah menjadi sejarah saja. Sejarah yang tak perlu dikenang, apalagi sampai diulang. Bye..bye..

Advertisements

14 Responses to “Tentang Hujan 2008 (part 3-habis)”

  1. ariefdj™ Says:

    ..umm.. despite your overwhelming sorrow in this session, you could see that a light in the end of the tunnel.. so, keep spirit.. It’s nothing just some feelings.. Anyway, never blame it on the rain again yo.. Hehe.. Salam..

    • uhm..I dont think I blame my sorrow on the rain pak, but what I wanna convey is just to describe what rain means, or how my feeling runs when the rain comes especially in 2008 for me…
      well, thanks for ur motivation, you’re right “it’s nothing just some feelings”. Time goes by lah…he..he

  2. weh, ngeri yang komen disini ingris booooooo…

    huhuhu, gimana rasa hujanya membasahkan ya.. sampe ga asadar kalo kita udah nangis.. yang kuat ya, toh emang cinta kaya gitu kok,..
    singkatnya gini aja..
    ada cinta repot, ga ada cinta juga repot..
    mending ada cinta, tapi jangan kelewatan berharap aja…
    patah hati itu sakit minta ampun…hahahahaha

    tapi aku suka kalimat2nya…
    tak contek dikit ga apa2 ya..
    hehehehehe

    • yow, tengkyu bro… anyway, komennya menjiwai banget deh, jangan2 malah pernah ngalamin…he

      *makasih sudah suka tulisanku ya
      *iyo, silahkan…silahkan…

  3. Ah ga jg, cm pernah jd pndngar yg baik ja, toh apa pun yg d’alamin orang, kt pun mungkin akan mengalami hal yg sama.. Itung2 blajar & mempersiapkan dri dr kmungkinan terburuk.. Hahaha.

    Yg pasti bhagia dan sakit krna cinta itu seimbang, dan tak ada melebihi antara 1 dan 1’y lagi.. Hehehe.

    Yup, emang bgus kok.. Hehe

  4. ujan bikin banjirr !!
    hahagz,,

    visit eNggaLicioUs bLog wanNa be deLicioUs

  5. saya menyukai hujan… rasanya damai jika hujan turun,

  6. finally I’ve found you hehehe….

    q juga pernah sakit karna cinta na..
    q tenggelam dalm kesedihan dan air mata, dan kmu sendiri pnh jadi saksinya tow??hehehhe(jadi malu)….sampai skrg pun rasanya masi pengen nangis..
    tapi setelah ta pikir2…percuma juga disesali toh yang pasti sama yang kayk kmu ungkapkan..”allah tidak memberi apa yg kita inginkan tapi Allah memberi apa yang qt perlukan”

    Smangat Na..

    eiya..ternyata, ni2nd bru tau nek Isna jago nulis kata2 heheh^^,sip tenan pokoe..

    • finally Nin, you’ve found me, he..
      mmm…bener2, memang ga perlu disesali kok…
      sebenarnya nih, cinta itu kayak kita pelihara bunga aja.. kalo bunga itu ga pernah kita siram atw kita pupuk ya lama-lama bakal mati juga tho?… that’s it..

  7. na…………………
    wuidihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    makin bijak setelah banyak makan asam garam percintaan ya…
    wkakakakakaka

    ga pasang poto lagi na…???
    yang kemaren kecil amat..

  8. Sejarah itu ya …. seperti yg dikatakan Soekarnov”JAS MERAH” : jangan sekali-kali melupakan sejarah….

  9. ya tergantung…kalo sejarahnya buruk ngapain juga perlu di ingat,

  10. Weh, betul,
    kalo buruk ngapain diingat.. Yg mesti dilakuin cuma brsyukur kl Tuhan msh percya ma kta, klo kta mampu melewati msa lalu yg kadang menjengkelkan itu.. Stdak’y rasa skit mengajari kta bgaimana tertawa yg lepas itu. Hahaha.

  11. dasar ukhti aneh..

    ehm.. ada yang lebih aneh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: