Home Sweet Home: Saya dan Gunungkidul (Part I)

Gunungkidul, salah satu kabupaten di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini adalah tempat saya dilahirkan.  Tempat di mana saya menghabiskan masa kecil bersama orang-orang yang saya sayangi.  Tempat saya menuntut ilmu dari taman kanan-kanak hingga sekolah lanjutan tingkat atas.  Tempat ini indah menurut saya.  Membawa kedamaian tersendiri saat saya kembali pulang ke tempat ini.  Tapi mungkin “tidak” bagi orang lain 🙂

Sejak saya melanjutkan kuliah di kota Jogja,  saya baru menyadari benar bahwa selama ini Gunungkidul sering dipandang sebelah mata.  Nggak ada air, ndeso atau kampungan, iya, kata-kata itu sering saya dengar ketika seseorang ingin menggambarkan tempat kelahiran saya tercinta ini.   Dan sejak saya kuliah di kota Jogja inilah,  Gunungkidul adalah identitas yang sangat melekat pada diri saya.  Ejekan dan sindirian tentang “ke-ndesoan” Gunungkidul kerap saya terima.  Mulanya saya memang sempat malu dan sakit hati.  Tapi lambat laun saya bisa menerimanya, mungkin karena terlalu seringnya jadi hal itu menjadi biasa-biasa saja untuk saya rasakan 😀

Saya sadar mengapa Gunungkidul selalu di anggap ndesoKabupaten ini memang terletak di perbukitan dan terkenal dengan kekeringannya.  Sampai saat ini air masih menjadi masalah utama di Gunungkidul.  Bayangkan, air yang merupakan kebutuhan pokok manusia saja, di sini masih kekurangan. Di beberapa daerah di Gunungkidul, -termasuk daerah simbah saya, dan saya tentunya-, penduduknya harus membeli air dari truk truk tangki ketika musim kemarau.  Namun ketika musim hujan, penduduk akan menggunakan air hujan untuk ditampung di bak besar dan dipakai untuk mandi, cuci, bahkan untuk di masak dan di minum.  Hal ini bukan disebabkan karena tidak adanya air.  Air ada banyak di sini, namun air itu tersimpan jauh di dalam tanah.

Sebut saja di salah satu Goa cantik di Gunungkidul, Goa Bribin.  Di tempat ini air sangat melimpah dan jernih.  Tapi karena keterbatasan alat, maka distribusi air ke penduduk sekitarnya tidak merata.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

**By the way, karena ini blog saya dan saya sudah kehabisan ide, jadi dilanjutkan kapan-kapan lagi yah (^_^)

To be continued…

Advertisements

13 Responses to “Home Sweet Home: Saya dan Gunungkidul (Part I)”

  1. woowww… aku yo seneng banget karo gunung kidul… konco okeh… pemandangan ngangeni, opo neh bukit2te kui lhooo… maknyussss…

    thx gk… wonosari love you….

    Sing “love you” ki wonosari opo wonosari mas?? hayooo 😆
    thanks anyway 🙂

  2. Nasionalis sejati.. Hohoho..
    Saya pernah satu kali ke wonosari, tpt’y saat bertandang ke rumah seorang tman kost dl. Dan yg msh kuingat saat melakukan perjalanan membelah sore itu adalah..”beneran harus ngelewatin bukit itu?” tanyaku pd seorang tman. Jd mungkin daerah gunung kidul wilayah’y terlalu ekstrem untk di lwati dan itu membuat’y trasa terisolir dr peradaban, jd mungkin kata ‘ndeso’ meluncur dr keadaan seperti itu.. Di tambh lg daerah gunung kidul jarang skali air, dan itu juga membuat pengidentitasan gunung kidul dng kata ‘ndeso’ makin erat.. Itu saja untk skrang.. 🙂

    nggak semua daerah di gunungkidul jarang air kok ^_^
    ehm..sekarang bisa liat fotonya ni ye 😆

  3. sudah sangat lama tak ke gunung kidul

    silahkan main ke sini pak, nanti jalan-jalan 😆

  4. Gunung Kidul…

    Bener.. GK identik dengan tanah bebatuan dan gersang, jg identik dengan kemiskinan.. tp sy tetap bangga lahir di gunung kidul… bangga menjadi orang Gunung kidul…
    Jiwa2 pekerja keras dan ulet terlahir darinya…
    Keadaan yg menjadikan sesorang menjadi kuat.
    I lup GK..

    sama donk, apapun keadaannya saya akan selalu bangga terlahir dan dibesarkan di Gunungkidul ^_^
    semangat ya Toegi, salam kenal 😆

  5. ndeso tempatny yo g po2, yg penting g ndeso orangny.. Ya tu tgs qta sbg agent of change.. ^_^
    *ehmm.. btw akhir maret kmaren aq hbs dr jogja lo..

    iya..pembawa perubahan agar lebih baik lagi..
    *ehmm.. ke bonbin aja kan? :p

  6. Saya jadi inget akan pengalaman waktu duduk di Sekolah Menengah Negeri di Yogya, tiap kali, di pelajaran Pancasila ada tema solidaritas, bencana dan kekeringan, teman teman langsung menengok ke saya, duuuh

    btw saya tetep bangga dengan gunungkidul, dan juga gua bribin yang mana saya terakhir berkunjung ke sana saat awal situs bribin dua mulai di bangun

    Ehm..saya juga pernah mengalami pak. Di sela-sela dosen memberi kuliah, ada obrolan tentang air dan kekeringan, teman-teman juga langsung nengok ke saya. Jadi bisanya cuma senyum senyum kecut , tapi lama-lama ya jadi biasa aja 😆
    Btw saya pun juga bangga jadi orang Gunungkidul, sampai kapanpun…

  7. Ndeso…, ah nggak juga. Banyak daerah lain yang lebih parah kondisi alam dan lebih tertinggal dari gunungkidul.Ejekan kerap muncul dari kalangan anak2 muda yang masih semego atau orang2 awam yang kurang berwawasan. Dari sisi lain banyak yang segan dengan orang2 gunungkidul, karena daerah ini terkenal dengan gudangnya seni, ilmu kebatinan, spiritualitas yang tinggi, dan sifat orang2 gunungkidul yang ulet dan tahan banting.

    ^_^ Saya setuju sekali, memang banyak yang segan dengan orang-orang Gunungkidul. Orang-orang Gunungkidul umumnya juga memiliki solidaritas yang tinggi. Jadi wajar saja ketika, misalnya, ada yang sakit kemudian mondok di rumah sakit di kota Jogja, maka tak mengherankan kalau akan datang beberapa rombongan kendaraan entah itu roda dua atau empat yang datang membesuk. Kata salah satu perawat di salah satu rumah sakit di Jogja, jika yang datang membesuk itu beberapa rombongan, maka sudah bisa dipastikan itu adalah orang-orang Gunungkidul ^__^

  8. Syukur kalo ternyata ga semua’y susah air.hehe.
    Hoho, memenuhi permintaan fans, jd tak pasang potoku..

    uhuk..uhuk..jadi batuk 😆 yang punya banyak fans gaya niyeee

  9. 1. Pripun kabare mbak Isna, wis suwe ora chatting meneh.
    2. Aku dulu bulan Maret pernah nglewati GK dari Kendal – Sukoharjo – Purworejo mbak. Jane nek kelingan tur nomer hapene aku dikeki kat mbiyen kae bisa mampir ra? 😆 Coba dismske. Nomerku neng blogku iki.
    3. Skripsine wis ujian apa urung mbak?

  10. Ya iyalah, bngga punya fans.. Hkakaka

  11. Saya kira sebagai mahasiswa, alangkah baiknya kalo isna dan tmn2 di kampus melirik daerah kelahiran sendiri sebagai target pengabdian masyarakat dari pihak kampus. Banyak kan peluangnya.. misalnya program kreativitas mahasiswa – pengabdian masyarakat (PKM-M). Coba kolaborasi dengan teman2 dari fakultas teknik atau fakultas terkait, mereka pasti punya gambaran tentang teknologi apa yang bisa dibawa ke daerah tersebut untuk mengatasi masalah kekurangan air…

    *sekedar usul aja, boleh jadi sudah dilaksanakan :mrgreen:

  12. Ketertinggalan, kemiskinan ahh.. itu mungkin persepsi orang yang belum mengenal dan mengerti dengan benar tentang Gunungkidul. Dengan begitu banyaknya kelebihan & potensi yang dimiliki (wisata, budaya, sumber daya alam, dll..), saya tidak menemukan alasan untuk merasa malu & menyesal lahir dan di besarkan di daerah ini.
    Bravo GK… 😉

  13. Bersyukurlah ,di saat kita masih merasa susah , ada saudara-saudara kita yang masih terjajah .. jangankan untuk bersekolah , hanya untuk menikmati sebuah ibadah kepada Allah , jiwanya terancam… ingat saudaraku itu di Palestina , mari kita Muhasabah (evaluasi diri) bahwa di balik kekurangan dan kesulitan hidup “di sini” masih banyak penderitaan yang harus kita singkirkan “di sana”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: